Catatan Kenangan Beny Uleander

Pemilik Blog

Beny Uleander
Alamat Kantor: Jl. Letda Kajeng No 21, Denpasar, Bali, Indonesia, Tlp (0361) 255654, 8424066, 8424067. Fax. (0361) 228240

Lahir di kota dingin Bajawa, Flores, NTT, 16-11-1975, putra ke-3 dari 6 bersaudara pasangan (alm) Dominikus Uleander dan Katarina Deru Pay. Kampung ayah dari Wogo, Wolokuru, dan Sadha, di kecamatan Golewa, Ngada. Sementara ibu campuran Flores-Sunda. Kampung ibu di Turekisa, Ngada (kakek), sedangkan kampung nenek Nyi Omoh di Desa Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Jauuuh sekali. Kakekku dulu seorang serdadu Belanda KNIL, setelah Indonesia merdeka masuk menjadi tentara Indonesia. Ternyata kakek buyut pihak ibu di Sunda berasal dari Makassar, tapi tidak terlacak dari desa apa. Keluarga besarku merupakan campuran dari berbagai suku dan agama: Islam, Kristen Katolik, dan Hindu.

Setamat SDK Kisanata Bajawa, diarahkan bapak masuk Seminari Mataloko (1989-1994), lalu setahun di SMAN Bajawa (1994-1995). Bertemu Guru Mikhael Remi dan Kanis Riberu serta para pastor yang mendorong kami belajar menulis renungan harian sejak SMP. Jasa besar mereka mengantar saya menyukai dunia jurnalis. Bercita-cita jadi Karmelit. Bersyukur hingga kini merasakan kehangatan persaudaraan dan seabrek kenangan indah di Biara Karmel Maumere. Tak lupa pula keakraban dengan teman-teman di STFT Ledalero, Maumere (1997-2001), yang sudah terpencar. Terdampar di HU Fajar Bali, 2003. Lalu bersua Koran Pak Oles, Mei 2004 hingga kini.

Saat ini, saya terus belajar ngeblog tulisan dan artikel di blogger, wordpress, friendster, multiply, opera untuk sekedar mencoba kenal “isi perut” arsip online. (benyuleander.blogspot.com, benyuleander.co.cc, benyuleander.multiply.com, benyuleander.wordpress.com, benyuleander.blog.friendster.com)

Dalam perjalanan waktu, saya berkesimpulan bahwa seorang wartawan harus berjalan menjadi seorang penulis, seniman kata, penikmat kata, peramu kata dan pewarta kata.

Seorang penulis amat mudah menjadi wartawan. Untuk menjadi wartawan yang baik, seseorang harus memperdayakan diri menjadi penulis. Banyak wartawan yang tidak berbakat menjadi penulis karena memang tidak mau belajar menjadi penulis!

Di era web 2.0 yang super interaktif dan horizontal, seorang penulis harus berani keluar dari “bayang-bayang narsis” untuk terus memprodusir tulisan yang ditayangkan di blog berbayar maupun gratisan. Biarkan  publik memberikan komentar, kritik, saran maupun sekedar berbagi pengalaman dan perasaan hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Desember 2016
S S R K J S M
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 68,260 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: