Catatan Kenangan Beny Uleander

Kenapa Wartawan Kurang Minati Berita Ekonomi

Posted on: Selasa, 27 Mei, 2008

OLEH: HENI KURNIAWATI

Kata inflasi masih dipahami sebatas definisi kenaikan harga barang dan turunnya nilai mata uang. Inflasi yang meningkat tajam tanpa terkendali akan menimbulkan kebangkrutan ekonomi. Karena itu, untuk mencapai level inflasi yang ideal dibutuhkan berbagai perangkat kebijakan, termasuk di antaranya kerangka kerja target inflasi oleh Bank Indonesia. Sementara pers diharapkan untuk memberitakan perkembangan ekonomi tanpa mengeksploitasi berbagai ekspektasi pasar yang berlebihan. Hal ini dikemukakan Redaktur Bisnis Indonesia Dr Rofikoh Rokhim,Ph.D saat mengupas cara mencari angle dalam penulisan berita ekonomi dan keuangan dalam acara workshop perbankan untuk jurnalis di Hotel Nikki Denpasar, Sabtu (29/3).
Menurut anggota Dewan Kehormatan Kode Etik Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) itu, pertumbuhan inflasi suatu negara tidak terlepas dari berbagai ekspektasi pasar. Karena itu, tugas seorang wartawan dalam melaporkan berita ekonomi dan bisnis harus dimulai dengan pemahaman dasar pilar-pilar ekonomi, analisa inflasi versi perbankan dan pusat data statistik serta mampu mengkaji kebijakan strategis perbankan.
Belajar dari pengalamannya, Rofikoh Rokhim melihat berita ekonomi sering tidak dipahami para wartawan karena amat kering dan berkutat dengan analisa data. Tak heran kala menulis berita ekonomi seorang wartawan cendrung memindahkan data yang sudah tersaji di press release tanpa melakukan analisa pasar atau langkah-langkah perbandingan. Padahal berita ekonomi itu amat menarik bila ditekuni wartawan. Banyak hal dapat diangkat dari berita ekonomi untuk membantu dan memberi pencerahan masyarakat tentang kondisi perekonomian terkini
Penulisan berita ekonomi kerap dianggap sulit dan dihindari hampir setiap wartawan, karena data yang diterimanya berupa angka dan istilah ekonomi berbahasa asing. “Wartawan kurang berminat di sektor berita ekonomi. Banyak wartawan yang takut menulis berita ini karena istilah asing dan angka. Kuncinya, jangan tertipu istilah asing yang sering digunakan para petinggi ekonomi kita,” ujarnya.
Rofikoh memberikan tips bagi wartawan dalam menanggapi isu-isu ekonomi di tingkat pusat. Berita ekonomi tersebut harus diaplikasikan dengan kondisi lokal dan wartawan harus bisa melihat efeknya apakah mempengaruhi banyak orang dan tentu saja disertai dengan solusi. Rupanya ketidaksukaan wartawan menggarap berita ekonomi dan bisnis berangkat dari ketidakmengertian wartawan atas sebuah topik ekonomi. Hal ini terlihat dari sikap antusias para wartawan yang memberondong Rofiki dengan banyak pertanyaan. Tentu saja workshop tersebut disambut hangat kalangan jurnalis di Bali yang sudah jauh dari kegiatan penyegaran dan peningkatan kualitas diri di bidang liputan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 68,180 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: