Catatan Kenangan Beny Uleander

Efisiensi, Kemandirian Divisi Dan Terobosan MLM

Posted on: Kamis, 17 Januari, 2008

Menggenjot Pemasaran Tahun 2008

(Wawancara dengan Pak Oles di POC, Jam 12 malam, Minggu (13/1) soal kelesuan ekonomi, harga sembako yang tak terkendali, dan kegagalan pemerintah membuat great design ekonomi makro)

Pasrah dan tak berdaya. Itulah kondisi psikologis yang menimpa rakyat kecil di awal tahun 2008. Kelesuan ekonomi kini melanda Indonesia. Daya beli masyarakat menurun, namun harga sembilan bahan pokok (sembako) terus merayap naik. Ditambah kebijakan ganda kenaikan BBM dan bencana banjir membuat angka pengangguran maupun kemiskinan meningkat. “Rakyat kecil sebenarnya sudah pasrah dan tak berdaya dengan situasi ekonomi sekarang. Harga barang mau naik ya mereka tinggal pasrah. Sementara orang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin,” ungkap pengusaha jamu, GN Wididana.

Di tengah kesuraman pasar Indonesia, pria kelahiran Singaraja yang lebih terkenal dengan nama panggilan Pak Oles itu merasa optimis bahwa pasar jamu dan obat-obatan tradisional justru membaik. Karena itu, PT Karya Pak Oles Tokcer tetap membidik segmen pasar lokal. Apalagi harga obat medis terus naik sehingga rakyat kecil mulai melirik pengobatan alternatif dan lebih sering konsumsi jamu. “Mereka kalau sakit utamakan dulu pengobatan alternatif sambil menunggu sembuh dengan minum jamu,” ungkapnya.

Keseriusan menggarap pasar lokal di tahun 2008 ditandai penataan tiga bidang. Pertama, efisiensi di bidang SDM dan produksi. SDM di setiap divisi digenjot untuk bekerja lebih efektif. Tim kerja yang gemuk tapi tidak efektif dipangkas. Dalam bidang produksi, meningkatkan penjualan produk yang laris, mengurangi stok dan kontroling produk. Kedua, pertajam divisi pemasaran agar lebih fokus pada target. Salah satunya meningkatkan pemasaran produk Biotor di Bali dan Jawa. Karena itu PT Pak Oles & Biotor Technology yang memproduksi Spontan Power, Hexon dan Kudo dipegang tim pemasaran yang terpisah dari Ramuan Pak Oles. “Tentu saja kembali kepada pelatihan dan perekrutan SDM yang berkualitas,” tandasnya.

Ketiga, inovasi pasar selain direct selling oleh tim SPG dan membangun jaringan distributor juga menggenjot sistem penjualan multi level marketing (MLM) Pandu Bussiness Network (PBN). Jenis MLM PBN ini diyakini bakal tumbuh karena baru saja diluncurkan sudah miliki 200 anggota. Pada triwulan pertama 2008, keanggotaan MLM diupayakan bisa mencapai 1000 orang. Target tersebut dicanang setelah melihat antusiasme masyarakat menyambut Pandu Bussiness Network, di Bali maupun Jawa. Sebentar lagi akan dibuka kantor cabang MLM PBN di Surabaya dan Banyuwangi. “Multi level marketing yang dikelola baik akan berkembang. Semuanya harus dengan sikap kerja keras kalau mau berkembang. Saat ini kita bisa melihat banyak multilevel produk yang sukses. Memang awalnya berjalan lambat tapi akhirnya berkembang cepat,” ungkapnya. Menyinggung estimasi target penjualan produk, hal tersebut tidak pernah diubah meski kondisi perekonomian secara makro cukup lesu. “Kita tetap berkerja mengejar target sambil berdoa agar bisa tercapai,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 68,180 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: