Catatan Kenangan Beny Uleander

XI Radio HEXON, Membangun Informasi Dari Desa

Posted on: Senin, 7 Januari, 2008

Tower besi galvanis setinggi 50 meter ditancapkan di halaman kebun Pusdiklat Teknologi EM di Desa Bengkel. Tangan-tangan kokoh dengan kulit legam menggali lubang menanam besi beton yang berfungsi sebagai pengikat kawat baja. Kawat itu menarik kencang antena besi ke empat penjuru mata angin pada setiap ketinggian lima meter. Di tempat lain terlihat para tukang, sibuk bekerja membuat sekat-sekat di dalam gedung pabrik. Ahli teknik sipil dan arsitek sedang diskusi sambil corat-coret rancangan dan perhitungan di atas kertas. Dalam tempo 90 hari sebuah stasiun radio berdiri megah di pelataran pabrik Ramuan Pak Oles di Desa Bengkel. Rasanya mimpi, tapi itulah yang terjadi. Masyarakat Desa Bengkel riang gembira menyambut lahirnya radio baru di desanya, sebuah radio kemudian lebih diakrabi Radio Hexon. Arus komunikasi dan informasi melalui radio dari Desa Bengkel terbuka lebar. Perputaran ekonomi rakyat menggeliat karena informasi yang aktif antar masyarakat desa. Kehidupan seni rakyat tumbuh. Lomba kidung, lagu, tari dan musik tradisional melalui radio bangkit semarak. Informasi melalui hiburan, pendidikan, wejangan dan saling kirim salam lewat radio mengikat tali persaudaraan masyarakat desa. Masyarakat bekerja dengan riang gembira sambil mendengarkan radio. Mereka bisa saling mengirim salam melalui SMS atau menelun langsung. Jika ada waktu senggang mereka juga bisa berkunjung ke wantilan (pendopo) radio sambil memesan minuman dan makanan ringan yang disediakan di koperasi karyawan.
Pada awalnya memang susah menangkap jalan pikirannya Pak Oles untuk membangun stasiun radio di sebuah desa terpencil di Bali. Bagaimana mungkin stasiun radio bisa hidup di desa yang tidak memiliki pangsa pasar iklan. Mungkin hanya investor gendeng yang mau menanamkan uangnya di media radio yang lokasinya di desa.
Visi besar Membangun Desa Membangun Bangsa diwujudkan dalam misi membangun media informasi radio dari desa untuk masyarakat luas. Tanpa visi itu tidak mungkin misi dilaksanakan. Karena visi itulah, semangat kerja dan kreativitas tumbuh tanpa batas. Hitung-hitungan angka untung rugi di atas kertas ditinggalkan sementara. Tindakan nyata dilakukan secara perlahan namun pasti, dengan bahu membahu penuh percaya diri. Hasilnya, salam waktu 9 tahun, Desa Bengkel yang kehidupannya terpencil dan dianggap nomor bontot dalam pembangunan di 9 kecamatan se-Buleleng melesat ke ranking teratas. Dream come true! Mimpi menjadi kenyataan; wujud dari kerja keras tiada henti. Visi Membangun Desa Membangun Bangsa diwujudkan dalam sebuah prototipe miniatur di Desa Bengkel. Di desa itu sudah berdiri industri pupuk organik EM terbesar di Asia Tenggara, industri obat tradisional Ramuan Pak Oles yang menempati ranking lima besar di Indonesia, kebun pertanian organik, budidaya tanaman obat, Pusdiklat Teknologi EM dan Radio Hexon. Dari Desa Bengkel model percontohan Membangun Desa Membangun Bangsa dilihat nyata, tidak sebatas teori.
Radio Hexon dilahirkan untuk mengusung sebuah nama besar produk Hexon, —produk vitamin oli mesin produksi PT Pak Oles dan Biotor Teknologi. Produk hexon yang informasinya dikelola dari Desa Bengkel bersama fans Radio Hexon, secara perlahan namun pasti, produk mendapatkan tempat di hati masyarakat. Produk ini selalu diingat karena sering diucap dan didengar. Awalnya nama Radio Hexon kurang sreg didengar telinga orang desa karena terlalu metropolis. Setelah nama produk radio dan produk otomotif berupa vitamin oli digabungkan, secara perlahan nama Radio Hexon menjadi pas di telinga dan mengena di hati masyarakat. Dua nama produk yang tidak berhubungan dikawinkan menjadi ikatan yang saling menunjang aktivitas promosi; Karena Hexon, masyarakat mengenal Radio Hexon. Karena mendengar Radio Hexon, masyarakat mengenal Hexon.
Pada 11 Desember 2007, Radio Hexon genap berumur satu tahun. Hampir setiap bulan di lapangan Radio Hexon diadakan berbagai acara seni dan hiburan yang melibatkan penonton lebih dari 1000 fans. Acara bisa berlangsung karena lokasi mendukung dan antusiasme masyarakat yang sangat positif, di samping karena masyarakat Desa Bengkel yang selalu haus akan hiburan. Atraksi seni dan hiburan sangat penting dilihat dan dinikmati masyarakat untuk sekedar membuang kejenuhan sehabis bekerja keras sebagai petani. Saking tingginya minat masyarakat untuk melihat berbagai pertunjukan sampai ada anekdot yang mengatakan, jangankan artis dangdut atau penari joged diatraksikan, jangkrik berkelahipun banyak yang menonton. Artinya, pertunjukan apapun diadakan di Desa Bengkel pasti ramai penontonnya. Ini memberikan suatu nilai tambah bagi Radio Hexon untuk selalu dekat dengan masyarakat melalui pembinaan dan pementasan seni pertunjukan.
Acara kidung dan pesantian (lagu, petuah dan filsafat hindu) yang diadakan dengan mengundang sekehe (kelompok) seni kidung dari setiap desa di 5 kecamatan secara bergilir dua kali seminggu. Selama enam bulan sekehe seni kidung berkembang lebih banyak dengan kualitas yang meningkat. Masyarakat desa mendapat hiburan dan wejangan filsafat, agama dan susila, yang secara langsung merupakan sarana pendidikan yang tidak menggurui bagi masyarakat untuk selalu menegakkan iman dan takwanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wejangan-wejangan itu disimak karena indah didengar, dengan irama yang menggetarkan hati. Secara perlahan namun pasti, tindakan susila berdasarkan norma agama, adat dan budaya menjadi teladan.
Pertunjukan tari joged, yang diiringi musik terbuat dari bamboo atau pentas tari genjek, tarian tradisional dengan goyangan seksi yang diiringi nyanyian dari mulut sekehe seni atau pertunjukan wayang kulit, yang secara langsung mengajak penonton berintrospeksi diri, atau pertunjukan lagu pop Bali dari artis Bali, bertepi pada tujuan menghibur masyarakat agar kita semua bisa hidup saling tersenyum dan bergembira, tetap sehat dan awet muda. Bukankah hati yang gembira adalah obat yang paling mujarab. Masyarakat desa menikmati hidupnya yang bersahaja dalam hiburan yang segar, saling toleransi, rukun dan damai.
Radio Hexon ibarat gadis cantik lulusan kota yang tinggal di desa. Berbekal teknologi dan informasi modern, Radio Hexon menciptakan suatu situasi dan kondisi baru dalam hal kegembiraan, kerukunan, kreativitas dan keberanian masyarakat desa untuk menyambut kehidupan yang lebih baik.
Sebagai gadis cantik yang ramah, tentu dia banyak yang melirik. Berkumpulnya ribuan fans berat Radio Hexon pada setiap acara yang diadakan di lapangan, berjubelnya iklan produk usaha kecil, menengah dan koperasi tingkat desa, serta ramainya kicauan salam dari fans lewat udara. Semua pertanda bahwa Radio Hexon mendapat di hati masyarakat. Tidak salah jika Pak Oles memberikan slogan Monyer ngisengin (gadis cantik genit dan selalu merindukan hati). Slogan dalam bahasa Bali ini tertulis dalam stiker Radio Hexon, dan selalu membuat orang tersenyum dan manggut-manggut.

Keterangan foto:
Foto atas: Ayu Saraswati, artis Bali yang kini menjadi penyiar Radio Dunia Bokashi Raya Klungkung. Sementara Radio Hexon mengudara di Desa Bengkel, Singaraja dan Radio Pak Oles FM di Pandak Kediri, Tabanan.
Foto tengah: Peluncuran produk otomotif Hexon (vitamin oli mesin) tahun 2005, yang diproduksi PT Pak Oles & Biotor Technology, di halaman TVRI Bali, Renon, Denpasar.

Foto bawah: Kegiatan rapat evaluasi tahunan wartawan POC untuk mengevaluasi program kerja dan merumuskan agenda kerja baru di tahun mendatang. Suasana rapat di aula IPSA, Desa Bengkel, Buleleng, 12 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 68,260 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: