Catatan Kenangan Beny Uleander

Pengolahan Produk Turunan

Posted on: Senin, 7 Januari, 2008

Salah satu potensi yang siap dikembangkan di Bukit Hexon adalah budidaya markisa. Buah tropis itu memang tumbuh liar dan subur di sekitar hutan lindung Alas Gege (selatan Bukit Hexon). Menurut pimpro pembangunan Bukit Hexon, Gede Edi Wiratha, selama ini pemasarannya kurang terorganisir. Buah yang dipanen setiap tiga bulan itu merupakan komoditi unggulan dan siap dipetik warga setempat untuk langsung dijual. Jika musim panen tiba, setiap warga (60 orang) bisa memetik sampai dua karung per hari selama sebulan. Tidak heran jika sekali panen, pendapatan akumulasi mencapai Rp 60 juta.

Komoditi tersebut memiliki produk turunan yang meningkatkan nilai jual. ”Produk olahan seperti dodol, wine, jus dan selai markisa kan bisa dibuat dari buah ini. Kenapa tidak kita manfaatkan SDA dan SDM yang ada untuk mengolahnya. Yang sangat dibutuhkan hanya pelatihan,” harap suami Luh Devie Verawati ini. Untuk itu, bantuan pemerintah daerah sangat diharapkan untuk proses pendidikan dan pelatihan.

Mewujudkan kesejahteraan rakyat khususnya kaum petani merupakan tujuan akhir pembangunan industri pertanian. Kesejahteraan berarti hidup yang cukup bahkan berlebih, –material dan spiritual. Hal ini sangat dirasakan masyarakat Desa Pegadungan dan Lemukih terutama Dusun Tempek Lobong. Mengapa tidak? Masyarakat terlibat aktif dalam pembangunan Bukit Hexon. Perubahan dapat dilihat dari pembukaan daerah isolasi dengan pembangunan jalan raya selebar 4 meter dan pembangunan proyek air minum.

Semua tenaga kerja berasal dari masyarakat sekitar. Artinya, Pembangunan Bukit Hexon benar-benar dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Inilah ciri utama membangun industri di desa. Sejak pembangunan Bukit Hexon, pendapatan masyarakat jadi lebih baik karena pekerjaan yang sudah terkonsentrasi dan fokus. Sebelumnya, banyak warga yang hanya beternak, penggarap ladang bahkan jadi penjarah hutan dengan penghasilan yang kurang mencukupi kebutuhan harian.

”Sehari saya dibayar 40 ribu sebagai tukang,” ujar Nyoman Selat, warga Tempek Lobong. Bukan para pria saja. Wanita dan anak-anakpun diberdayakan dengan hanya mengumpulkan batu dan pasir di sekitar areal pembangunan. ”Dalam sehari saya bisa mendapat uang lebih dari 100 ribu, hanya dengan mengumpulkan batu atau pasir,” ujar I Luh Wining. Bahkan, kini telah dibentuk koperasi konsumsi yang beranggotakan para pekerja dan warga di sekitar Bukit Hexon. Koperasi yang melayani aneka kebutuhan pokok itu diberi nama Wahyu Pertiwi Bukit Hexon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 68,077 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: