Catatan Kenangan Beny Uleander

II KAWASAN YANG MENGALIR MATA AIR HARAPAN

Posted on: Senin, 7 Januari, 2008

Tiap 3 Bulan Panen Markisa Rp 50 Juta

Sesuai catatan dari sertifikat tanah, secara administratif, Bukit Hexon masuk dalam wilayah Desa Lemukih, Kecamatan Sawan. Namun bagi masyarakat di dusun Tempek Lobong, Pegadungan, Bukit Hexon masih dalam wilayah Kecamatan Sukasada berdasarkan tapal batas. Di kaki Bukit Hexon terdapat Desa Pegadungan, Lemukih, Pancasari, Pegayaman, Longsega, Katyasa dan Mertasari.

Nama Dusun Tempek Lobong tidak dapat dilepas-pisahkan dari eksistensi Bukit Hexon. Ibarat pintu gerbang, Tempek Lobong adalah pintu masuk menuju Bukit Hexon. Selain itu, kehidupan warga 17 KK setempat sudah menyatu dengan Bukit Hexon yang dulu bernama Bukit Sandeh.

Bagi warga sekitar, Bukit Sandeh, Alas Gege dan Bukit Jambul adalah tulang punggung perekonomian mereka. Setiap tiga bulan sekali, tutur Made Yasa, Kadus Tempek Lobong, warga sekitar masuk hutan lindung Alas Gege untuk mengumpulkan buah markisa yang tumbuh lebat dan liar. Untuk sekali musim panen, mereka bisa mendulang rejeki nomplok Rp 50 juta sampai Rp 60 juta. Setiap hari, sekitar 50 sampai 60 orang dari Desa Pegadungan, Lemukih, Pancasari, Pegayaman, Longsega, Katyasa dan Mertasari masuk hutan Alas Gege, dan keluar dengan dua karung buah markisa per orang.

Buah markisa menjadi sumber pendapatan mereka selama bertahun-tahun. Menyaksikan keseharian hidup warga sekitar Bukit Hexon menyisakan potret miring kehidupan masyarakat pedesaan yang kurang mendapat sentuhan program pembangunan, akses informasi dan metode pertanian tepat guna. “Kami jarang mendapat kunjungan dari pemerintah atau dinas pertanian. Padahal masyarakat di sini sangat membutuhkan penyuluhan pertanian yang tepat,” ungkap Gede Eddy Sukawiratha (27).

Memang, penghuni kaki Bukit Hexon umumnya warga pendatang. “Tidak ada penduduk asli Tempek Lobong. Kami semua pendatang di sini,” ujar Made Yasa. Mereka bercocok tanam dengan menanam ubi, jagung dan tanaman kopi arabika. Kini mereka mulai belajar menanam tanaman bernilai ekonomis tinggi seperti strawberry, seledri, bawang prei dan wortel karena cocok dengan kondisi tanah.

Kondisi perekonomian yang sulit, kerap menggoda warga sekitar melakukan pembalakkan liar kayu hutan. “Sekarang sudah kurang, karena mereka sudah ada penghasilan dari proyek Bukit Hexon. Kalau dulu banyak sekali yang masuk hutan mencuri kayu. Mereka sulit cari uang,” papar Yasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 68,260 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: