Catatan Kenangan Beny Uleander

Menyerap Materi EM Dari Pak Ketut Riksa

Posted on: Rabu, 2 Januari, 2008

“Kita Belum Meniru Revolusi Pertanian Korsel”

OLEH: BENY ULEANDER

Aula pertemuan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA), Desa Bengkel, Buleleng, yang biasa digunakan untuk diskusi dan mendengar pemaparan teoritis aplikasi teknologi effective microorganisms (EM) mendadak sepi. Suara berisik para peserta kursus teknologi EM ditelan udara keheningan. Wajah mereka terkesima diam menyimak jawaban tulus Ir Ketut Riksa. Ya, pakar teknologi EM ini disodorkan sebuah pertanyaan menggugat dari seorang peserta. “Apakah teknologi EM sebuah teknologi pertanian penuh tipuan, hasil rekayasa dan hanya popular berkat kemampuan pembicara menyampaikan argumen yang meyakinkan peserta kursus?”
Dengan penuh kerendahatan hati, Ketut Riksa menjawab bahwa para peserta kursus memiliki kemampuan intelektual dan nurani untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi dirinya. Dirinya sendiri berbicara tentang apa yang ia lihat, dalami dan praktekkan seputar teknologi EM. “Saya seorang pensiunan PNS yang merasa terpanggil untuk membagi pengetahuan soal teknologi EM yang saya yakini sebagai teknologi pertanian ideal untuk masa depan. Dan, semua yang saya bicarakan tidak saya pertanggungjawabkan kepada anda kalian tetapi akan saya pertanggung-jawabkan kepada Tuhan,” ujarnya dengan suara penuh wibawa sehingga peserta kursus terdiam.
Ir Ketut Riksa sudah 7 tahun mengabdi di PT Songgolangit Persada. Mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangli ini sering menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan soal teknologi EM. Ia juga kerap membuat dan merencanakan demplot-demplot percontohan lahan pertanian yang menggunakan pupuk padat Bokashi Kotaku dan EM4. Kini di usia senjanya, Riksa mengaku tetap memiliki komitmen yang kuat untuk pempopulerkan teknologi EM sampai akhir hayatnya.
Untuk mencapai swasembada pangan nasional, Riksa berharap negara kita bisa mencontohi Korea Selatan yang sejak tahun 2000 memproklamasikan pertanian organik
berbasis teknologi EM. Hasilnya, dalam tiga tahun mereka sudah mencapai swasembada pangan. “Mereka juga dapat minum air yang dulu bekas kubangan kerbau.
Sebuah hal yang tidak mungkin mereka alami kalau masih mengandalkan pupuk kimiawi,” tegas pria yang semasa jadi PNS aktif sudah mengusulkan agar teknologi EM menjadi pilihan pemerintah daerah untuk meningkatkan hasil pertanian.

KETERANGAN FOTO: Ir Ketut Riksa memang jago dalam pemahaman teknologi EM di segmen regenerasi, deionisasi dan revitalisasi. Ia telah membuktikan bahwa mayat di Trunyan tidak membusuk walau tak dikubur karena di sana bakteri EM masih sangat tinggi dan belum ada praktek pertanian berbasis pupuk kimia. Oke deh saya akan ajak anggota keluarga mulai minum larutan EM4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 68,077 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: