Catatan Kenangan Beny Uleander

Kasting Sebuah Ladang Ekspresi Diri

Posted on: Minggu, 25 September, 2005

Menakar Kualitas Final Bali Casting 2005

Dunia kasting kini naik daun seiring dengan kesuksesan berbagai rumah produksi melahirkan bintang iklan, top model, presenter dan bintang film yang berkualitas. Langkah audisi-kasting dengan segala prosesnya untuk menjaring aktor dan aktris berbakat di berbagai daerah harus dimaknai sebagai wadah membenihkan apresiasi seni. Sehingga kualitas karakter lebih diutamakan ketimbang ornament kecantikan atau kegantengan semata. Lahir harapan, dunia keartisan tidak disesaki remaja yang sekedar numpang lewat dengan menjual tampang.

Gemerlap dunia selebritis dengan segala kemewahannya ternyata menyihir sebagian remaja Indonesia berlomba-lomba menjadi aktor dan artis. Ketenaran disertai perubahan status hidup akibat menjadi tokoh publik berpengaruh pula pada penebalan kantong pribadi. Remaja pun mulai antre mengikuti proses kasting yang diselenggarakan rumah-rumah produksi sebagai batu loncatan untuk menjadi bintang iklan, pemain sinetron dan film.

Pemilihan pemeran untuk membintangi suatu film atau sinetron dalam satu acara audisi disebut kasting. Kaster adalah orang yang bertugas melakukan seleksi. Kaster adalah kelompok ahli yang memiliki proyeksi, kategori bentuk fisik, mental dan karakter kepribadian tokoh yang dikehendaki oleh script atau skenario.

Aspek spesifik yang dicari saat kasting adalah fisik, karakter dan kepribadian peserta kasting. Tiga hal ini terkait erat dengan kebutuhan kamera, agar film atau sinetron yang lebih menekankan ekspresi dengan bahasa gambar, tak menjadi terlalu cerewet dengan dominasi kata.

Kini kasting telah menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Rumah produksi (production house) bertebaran bak cendawan di musim hujan. Proses audisi selalu ditandai dengan gebyar dan kemeriahan termasuk final Bali Casting 2005 yang melahirkan 10 nominator. Puluhan remaja putera-puteri berkumpul mengadu nasib dengan harapan dirinya bisa terpakai.

Menurut Ketua Panitia Bali Casting 2005, Arief Martha memang tidak gampang menjadi pemain senetron/film yang profesional. Selain karakter dan penjiwaan yang kuat, peserta kasting juga harus memiliki kamera face, kemampuan sikap tubuh (gesture) dan kemampuan berbahasa. “Penilaian sangat tergantung dari penjiwaan dan karakter mereka. Susah lho ketawa, kemudian menangis hanya dalam hitungan menit,” ungkap Martha yang juga bintang iklan dan pemain sinetron Rahasia Ilahi, Di Balik Kuasa Tuhan, dan Mutiara Hati. Sambungnya, kemampuan akting orang Bali cukup berkualitas karena sudah terbiasa dengan kesenian Drama Gong namun belum ada media penyaluran yang tepat. Jadi tinggal dipoles saja.

Sementara presenter jenaka Irfan Hakim, yang sempat dijuluki Raja Kasting, menilai dunia kasting dengan segala prosesnya seperti penjiwaan karakter individu, tingkah lucu, vulgaritas, realisme dan teaterikal merupakan bagian dari berkesenian. Artinya, kemampuan berakting dan penjiwaan karakter berdasarkan script wujud apresiasi seni.

Kasting juga di mata raja rapper Indonesia Iwa K merupakan lahan persemaian bakat seni. Karena itu, pemilik nama lengkap Iwa Kusuma ini prihatin bila sasaran remaja mengikuti kasting adalah ketenaran sebagai selebritis semata. “Biasanya artis atau aktor yang instan tidak bertahan lama. Sebab mereka tidak melalui proses alamiah pencarian bakat,” tandas lajang berusia 35 tahun ketika tampil bersama bintang KDI 2 di Padanggalak, Denpasar, malam Minggu (24/9).

Remaja yang mengikuti proses kasting setidaknya memiliki sebuah persepsi atau filosofi nilai berkesenian. Menurut Silvira Citra, salah satu bintang KDI 2 perwakilan Makassar, proses kasting adalah saat mencari dan menemukan potensi diri dalam menjiwai sebuah peran yang ditawarkan sutradara atau produser. Proses kasting bukan kesempatan eksploitasi diri secara serampangan. Karena itu, dirinya berjanji akan mempelajari naskah yang disodorkan. “Saya tentunya lihat dulu naskah yang ditawarkan apakah masih dalam batas-batas wajar atau nggak. Kalo kelewatan ya ditolak dong meski bayarannya tinggi,” cetus dara kelahiran Makassar, 23 September 1984.

Pada akhirnya, audisi-kasting yang kerap ditandai dengan acara gebyar gemerlap padat sponsor dan berkumpulnya ratusan wanita cantik dan pemuda ganteng dari mana-mana tetaplah sebuah lahan apresiasi dan ekspresi berkesenian.

Bali Casting 2005 tetaplah harus menjadi ladang berkreasi bagi bibit-bibit remaja Bali sebelum masuk dunia sinetron, presenter dan iklan televisi. Bali adalah gudang seniman. Kualitas kasting akan melahirkan bintang lokal Bali yang berkualitas. Lihat artis asal Bali sudah ada yang mengetop dan berkibar baik di tingkat nasional maupun internasional, seperti Tracy Trinita dan Luna Maya. (Beny Uleander & Made Sutami/KPO EDISI 90/OKTOBER 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2005
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 68,077 hits

WITA

obj=new Object;obj.clockfile="8009-red.swf";obj.TimeZone="Indonesia_Denpasar";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);
%d blogger menyukai ini: